Tradisi Lokal Jawa Menyambut Kelahiran Bayi & Makna Simbolik

Tradisi Lokal Jawa Menyambut Kelahiran Bayi & Makna Simbolik

Tradisi Lokal Jawa Menyambut Kelahiran Bayi & Makna Simbolik – Kelahiran  adalah tindakan atau proses melahirkan atau melahirkan keturunan,  juga disebut dalam konteks teknis sebagai parturition. Pada mamalia, proses ini diprakarsai oleh hormon yang menyebabkan dinding otot rahim berkontraksi, mengeluarkan janin pada tahap perkembangan ketika siap untuk makan dan bernapas.

Kelahiran anak ke dunia tentunya membawa kebahagiaan bagi orangtua anak maupun lingkungan di sekitarnya. Dalam tradisi lokal Jawa, kelahiran bayi disambut dengan serangkaian tradisi yang sebagian masih lestari hingga saat ini.

Penyambutan kelahiran bayi yang dilakukan idn poker ios suku Jawa terbilang unik, karena di dalamnya banyak terkandung makna simbolis yang mungkin belum diketahui generasi muda saat ini.

1. Tanem ari-ari
5 Tradisi Lokal Jawa Sambut Kelahiran Bayi, Sarat Makna Simbolik

Masyarakat Jawa menganggap ari-ari sebagai ‘teman’ bayi semasa dalam kandungan ibu, sehingga ari-ari hendaknya dirawat dengan cara dikubur agar tidak membusuk. Dari segi kesehatan, memang ari-ari patut dikubur, karena termasuk bagian tubuh manusia yang dapat mengundang bakteri penyakit akibat proses pembusukan.

Menanam ari-ari dilakukan oleh ayah sang bayi dengan menanam ari-ari di dalam tanah dekat pintu utama rumah. Setelah ari-ari ditanam, tempat mengubur ari-ari juga dipagari dan diberi penerangan, biasanya berupa lampu minyak selama 35 hari.

2. Brokohan
5 Tradisi Lokal Jawa Sambut Kelahiran Bayi, Sarat Makna Simbolik

Brokohan adalah tradisi Jawa berupa penyambutan kelahiran bayi yang dilakukan sehari setelah bayi lahir. Brokohan sendiri dalam bahasa Indonesia berarti ‘mengharapkan berkah’. Dalam acara brokohan, tetangga dan keluarga besar berkumpul untuk menyambut kelahiran bayi dengan rasa syukur dan kebahagiaan.

Acara brokohan diisi dengan kenduri atau selamatan dan bancakan yang mana keduanya bermaksud untuk mendoakan keselamatan bayi. Baik tetangga maupun keluarga besar, biasanya akan membawa buah tangan untuk keluarga bayi, misalnya berupa perlengkapan bayi.

3. Sepasaran
5 Tradisi Lokal Jawa Sambut Kelahiran Bayi, Sarat Makna Simbolik

Upacara sepasaran dilakukan tepatnya 5 hari setelah kelahiran bayi. Dalam acara sepasaran, diadakan kenduri atau selamatan, dimana tetangga dan keluarga bersama-sama mendoakan bayi yang baru lahir.

Kenduri dalam sepasaran pada dasarnya dilakukan untuk memohon keselamatan bayi agar bayi kelak dapat hidup lancar dalam segala hal. Sepasaran biasanya juga diikuti dengan pengumuman nama bayi dan aqiqahan, dimana upacara menjadi semakin meriah. Namun, hal ini tidak selalu berlaku dan bergantung pada orangtua bayi yang mengadakan acara.

4. Jagongan bayi
5 Tradisi Lokal Jawa Sambut Kelahiran Bayi, Sarat Makna Simbolik

Tradisi jagongan bayi diadakan sebagai bentuk perhatian tetangga terhadap bayi yang baru lahir dengan cara begadang ‘menjaga bayi’. Jagongan bayi dilakukan pada sepasaran bayi, yaitu selama 5-6 hari setelah kelahiran bayi, tergantung permintaan orangtua bayi. Saat ini jagongan bayi dilakukan mulai sehabis maghrib ataupun isya’ hingga jam 10 malam ataupun jam 12 malam.

Biasanya sesepuh dan tetangga-tetangga di sekitar lingkungan bayi akan datang untuk ‘menjaga bayi’ dan memberikan petuah-petuah, perkataan baik, ataupun menyanyikan tembang Jawa. Acara jagongan bayi juga diisi dengan permainan kartu ataupun catur yang bermaksud untuk mempererat tali silaturahmi antar tetangga.

5. Selapanan
5 Tradisi Lokal Jawa Sambut Kelahiran Bayi, Sarat Makna Simbolik

Selapanan diadakan ketika bayi genap berumur ‘selapan’ atau 35 hari. Dalam upacara selapanan, terdapat rangkaian acara berupa kenduri, pemangkasan rambut bayi hingga gundul, dan pemotongan kuku bayi.

Adapun kenduri kelahiran bermaksud untuk mendoakan bayi agar tumbuh sehat dan dilimpahkan kebaikan. Sementara, pemangkasan rambut bayi hingga gundul dimaksudkan untuk menjaga kebersihan bayi agar bayi tumbuh sehat. Tradisi selapanan ini juga telah terdaftar dalam pencatatan warisan budaya takbenda Indonesia, lho. Jadi sudah sepatutnya dilestarikan bersama!

Pada beberapa spesies keturunannya adalah precocial dan dapat bergerak di sekitar segera setelah lahir tetapi di lain itu adalah altricial dan sepenuhnya tergantung pada orangtua.

Pada hewan berkantung , janin lahir pada tahap yang sangat belum matang setelah masa kehamilan yang singkat dan berkembang lebih lanjut di dalam kantong rahim ibunya .

Bukan hanya mamalia yang melahirkan. Beberapa reptil, amfibi, ikan, dan invertebrata membawa anak-anak mereka yang sedang berkembang di dalamnya. Beberapa di antaranya adalah ovovivipar , dengan telur yang menetas di dalam tubuh ibu, dan yang lain vivipar , dengan embrio berkembang di dalam tubuhnya, seperti dalam kasus mamalia.