Inilah Tradisi Silaturahmi dan Adaptasi Saat Wabah di Jambi

Inilah Tradisi Silaturahmi dan Adaptasi Saat Wabah di Jambi

Inilah Tradisi Silaturahmi dan Adaptasi Saat Wabah di Jambi – Mukhtar Hadi, seorang pemuda dari Desa Muarajambi, yakin di desanya yang memiliki seabrek tinggalan tapak tuanya pasti meninggalkan jejak legenda dan budaya. Dia terngiang dengan keberadaan tradisi Topeng Labu. Konon tradisi ini berawal dari sebuah legenda wabah kusta yang menyerang penduduk di desanya itu.

Hingga akhirnya, selepas menamatkan kuliahnya pada 2009, Mukhtar Hadi, mulai menggali keberadaan Topeng Labu. Mukhtar lalu, mencari sumber-sumber primer untuk mengangkat tradisi Topeng Labu yang konon berasal dari sebuah legenda wabah kusta.

Borju, begitu sapaan karib Mukhtar Hadi mengatakan, ia mulai daftar idn play poker android mencari alur cerita tradisi Topeng Labu itu dengan metode mendatangi para tetua kampung guna mengumpulkan cerita.

1. Tradisi yang selalu ditunggu masyarakat
Topeng labu di antara kusta dan pesta lebaran

“dung..dung..dung,” suara gong mulai dibunyikan. Serentak, para pemain topeng mulai berjalan menyusuri jalan setapak dusun Muarajambi. Setiap rumah yang dilalui, para pemiliknya sudah menunggu di atas teras.

Mereka melambai-lambaikan tangan kepada para pemain topeng. “Tetap di rumah, jangan bersalaman, kami sudah memaafkan,” teriak seorang pemuda sepanjang perjalanan melalui pengeras suara.

Abdul Haviz, pemuda pelestari tradisi dan budaya Desa Muarajambi menyampaikan, jika tak ada main topeng di hari pertama lebaran seperti tidak merasakan suasana lebaran. “Main topeng ini selalu ditunggu masyarakat,” kata pria yang akrab disapa Ahok ini.

Memang konsep yang mereka tampilkan pada tahun ini sedikit berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Mereka tetap berupaya menjalankan protokol kesehatan penanganan COVID-19. Setiap pemain topeng menjaga jarak, menggunakan masker, dan sarung tangan. “Tidak dibolehkan berjabatan tangan dengan warga,” ungkapnya.

Padahal jika tidak dalam kondisi pandemik, mereka akan ke rumah-rumah warga yang dilewati untuk bersalam-salaman. Bahkan tak jarang, warga memberi para pemain makanan dan minuman hingga uang sebagai apresiasi.

“Tapi main topeng tahun ini tetap tidak menghilangkan suasana siltarahmi antar warga Desa Muarajambi pada tradisi Topeng Labu,” jelasnya.

2. Tradisi Topeng Labu sempat hilang
Legenda Wabah Kusta dan Topeng Labu di Muarajambi - Regional Liputan6.com

Mukhtar Hadi, Pelestari kesenian Topeng Labu Muarajambi mengisahkan, tradisi Topeng Labu sempat hilang di daerah tersebut. Seiingatnya, akhir tahun 1990 sampai akhir tahun 2000, tradisi ini sempat tidak dimainkan. Pemuda setempat enggan memainkannya dengan berbagai alasan.

Gelisah dengan ancaman kepunahan, lalu pada 2009 usai menyelesaikan kuliah di IAIN Sultan Thaha Saipudin Jambi, pria yang biasa disapa Borju ini berinisiatif mengangkat kembali tradisi Topeng Labu di desanya. Dengan beberapa pemuda Desa Muarajambi, dirinya mulai mencari buah labu manis yang sudah tua di sawah-sawah warga. Proses kreatif dimulai saat itu juga.

“Saya berpikir kalau tradisi ini hanya muncul setahun sekali di hari lebaran, kesenian ini tidak akan dikenal orang di luar Desa Muarajambi,” ungkapnya.

Akhirnya Borju berupaya membawa Topeng Muarajambi ke beberapa kegiatan di Kota Jambi. Seperti pawai budaya, pergelaran seni, hingga festival-festival pariwisata. “Upaya mengenalkan permainan topeng labu ini akhirnya mulai memperlihatkan hasilnya,” katanya.

Kini setidaknya usaha mereka untuk mempertahankan tradisi daerah tersebut bisa dibilang berhasil. Main Topeng Labu menjadi salah satu tradisi yang selalu dinanti masyarakat sekitar Desa Muarajambi saban hari pertama lebaran.

3. Tradisi Topeng Labu berawal dari wabah kusta
Cerita Singkat Sejarah Tari Topeng di Muarojambi, Kisah Pemuda Pengidap  Kusta dan Terusir - Tribun Jambi

Ada satu cerita yang hingga saat ini bertahan mengenai keberadaan Topeng Labu. Cerita itu tak lepas dari penyakit kusta. Dahulu, kata Borju, Desa Muarajambi pernah terserang wabah Kusta.

“Penyakit kukut kalau orang di sini bilang,” katanya.

Orang yang terkena kusta di kampung zaman dahulu akan diasingkan ke dalam hutan, Ngutan istilah mereka. Ketika hari raya Idulfitri, orang yang terkena kusta pastinya memiliki kerinduan untuk kembali ke kampung dan bertemu keluarga.

Makanya buah labu digunakan untuk menutupi wajah yang terjangkit kusta agar tak dikenali warga kampung.

“Ternyata kehadiran orang bertopeng ke kampung menjadi hiburan bagi warga desa. Kemudian warga desa memberi makanan dan minuman kepada orang yang terkena kusta ini untuk dibawa ke dalam hutan,” jelasnya.

Dari cerita ini, mereka meyakini jika ada pesan kesetaraan sesama manusia. Tidak ada manusia yang layak dikucilkan dan direndahkan. Semua orang harus mendapatkan perlakuan yang sama.

“Saat wabah, tradisi topeng labu ini mengajarkan kita untuk tetap menjaga silaturahmi dan memberi dukungan kepada orang-orang yang terserang penyakit,” pungkasnya.

Pawai Topeng, Tradisi di Muaro Jambi Rayakan Lebaran Idul Fitri - Tribun  Jambi

Desa Muarajambi terletak di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Desa ini adalah desa yang paling dekat peradaban kuno kompleks percandian Muarajambi. Di desa ini mempunyai cerita turun-temurun yang terus diwariskan. Legenda itu menceritakan bahwa nenek moyang mereka dulu adalah penderita kusta.

Dalam cerita itu, para penderita kusta pantang untuk didekati. Penyakit kusta ini pada zaman dulu disebut-sebut sebagai penyakit kutukan, sehingga penderitanya tidak boleh berbaur dan harus diasingkan ke dalam hutan (ngutan).

Setelah lama diasingkan di dalam hutan belantara, tiba saatnya hari raya Idul Fitri. Para penderita kusta tadi merasa ingin bergabung dan bersilaturahmi dengan masyarakat lainnya di desa kala lebaran.

Saat keluar dari hutan itu lah penderita kusta mengenakan Topeng Labu dan pakaian panjang yang digunakan untuk menutupi borok kusta mereka. Di punggungnya memanggul keranjang untuk tempat warga melempar makanan atau kue lebaran sebagai tanda iba hati.