Inilah Fakta Angker Seputar Mausoleum OG Khouw di Petamburan

Inilah Fakta Angker Seputar Mausoleum OG Khouw di Petamburan

Inilah Fakta Angker Seputar Mausoleum OG Khouw di Petamburan -Mausoleum O. G. Khouw adalah situs bersejarah di Jakarta yang merupakan makam Oen Giok Khouw (1874-1927), seorang filoantropis terkemuka dan keturunan keluarga Khouw van Tamboen. Jandanya, Lim Sha Nio (1879-1957), juga kemudian dikebumikan di sana. Makam ini dirancang dengan gaya Art Deco oleh G. Racina, arsitek Italia yang tinggal di Surabaya, Hindia Belanda pada awal abad ke-20.

Perusahaannya, Ai Marmi Italiani, adalah kontraktor pembangunan makam tersebut.  Sejarah Kota Jakarta yang menjadi pusat bisnis dan pemerintahan sejak zaman penjajahan Belanda, membuat kota yang dulu bernama Batavia ini sarat dengan peninggalan sejarah. Tidak hanya rumah ibadah atau bangunan yang kini menjadi kantor atau tempat tinggal, tapi juga makam dan bahkan mausoleum. Mausoleum ini merupakan tempat pemakaman salah satu pengusaha kaya raya Indonesia keturunan Tionghoa, OG Khouw.

Disebut-sebut, mausoleum ini dibangun sebagai tanda cinta seorang istri kepada suaminya yang meninggal dunia saat bertugas menjadi delegasi Indonesia. Dari segi bangunan, mausoleum ini sangat megah. Bangunannya dibalut marmer hitam yang langsung diimpor dari Italia. Tingginya kurang lebih 9 meter, sehingga membuat mausoleum ini nampak mencolok dari bangunan lainnya.

1. Oen Giok Khouw pengusaha kaya asal Indonesia keturunan Tionghoa
Moseleum O. G. Khouw, Wisata Sejarah

Oen Giok Khouw adalah pengusaha kaya asal Indonesia keturunan Tionghoa, yang merupakan pengusaha tebu terbesar pada zaman Belanda. Khouw lahir di Batavia atau sekarang disebut Jakarta pada 13 Maret 1874.

Dia juga merupakan salah satu keturunan Indonesia Tionghoa yang beruntung dapat merasakan edukasi pada zaman kolonial Belanda.  Dilansir dari berbagai sumber, Khouw dan istrinya, Lim Sha Nio, sepanjang hidupnya lebih banyak menghabiskan waktu tinggal di Benua Eropa, antara Swiss dan Prancis Selatan.

Pada 1908, Khouw, Mas Asmioen, dan Oey Tiang Hok mengejutkan masyarakat kolonial Belanda karena menjadi warga negara Belanda dengan sistem naturalisai. Mereka pun menjadi sosok gebrakan pada ras kasta dari Indonesia Kolonial.

2. Ritual pemakaman yang bernilai fantastis
Naga Gaib dan Kuntilanak Hitam di Mausoleum Tanda Cinta Petamburan

Khouw wafat pada 1927 di usia 53 di Kota Spa, Bad Ragaz, Swiss. Setelah kematiannya, jasad Khouw dikremasi di Swiss dan abunya dikirim dari Eropa menuju Indonesia. Istrinya, Lim, merasa sangat terpukul atas kepergian belahan jiwanya.

Konon katanya, pada saat itu biaya pemakaman Khouw merupakan yang paling mahal dan paling mewah. Bahkan beberapa sumber mengatakan, pemakaman Khouw lebih mahal dari pemakaman pengusaha asal Amerika Serikat, William Rockefeller, di Sleepy Hollow, New York.

3. Dibangun sebagai tanda cinta Lim kepada belahan jiwanya
Melihat Megahnya Mausoleum di TPU Petamburan: Makam Bangsawan OG Khouw Pada  Zaman Kolonial - Tribunjakarta.com

Sebagai tanda cinta kepada sang suami, Lim membangun mausoleum sebagai tempat peristirahatan terakhir Khouw.

Mausoleum yang sudah ada sejak 1927 ini dibangun seperti pelataran bulat dengan tiang setinggi 9 meter. Bangunannya dilapisi marmer hitam impor dari Italia, dan pagarnya yang berwarna keemasan dibuat dari tembaga tebal untuk memproteksi area permakaman tersebut.

Tiga puluh tahun kemudian, Lim meninggal dunia menyusul belahan jiwanya. Dia disemayamkan di sebelah Khouw.

4. Ruang bawah tanah tempat penyimpanan abu jenazah
Bukannya Seram, 7 Kuburan Ini Justru Jadi Spot Foto Instagramable

Di mausoleum ini terdapat ruangan kosong di bawah tanah yang digunakan sebagai tempat penyimpanan abu jenazah. Ruangan tersebut berbentuk melingkar dengan disinari oleh lampu neon.

Terdapat relik ukiran muka gaya khas victorian menghiasi dinding depan. Sekarang, tempat ini dikelola oleh Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta.

Khouw dan Lim tidak memiliki keturunan, sehingga pada makam tidak dituliskan nama garis keturunan.

5. Naga gaib dan kuntilanak hitam penunggu mausoleum
Naga Gaib dan Kuntilanak Hitam di Mausoleum Tanda Cinta Petamburan

Juru kunci sekaligus penjaga TPU Petamburan, Nana (70), menjelaskan, terdapat sesosok naga yang menjaga mausoleum tersebut. Dulu, ujar dia, banyak orang berniat jahat ingin mencuri barang-barang maupun material yang terdapat di mausoleum itu. Pada saat itulah, naga tersebut sering muncul untuk mengusir orang-orang yang berniat buruk itu.

Tidak hanya itu, Nana juga menjelaskan, sering terjadi penampakan sosok wanita yang dipercayai kuntilanak di sekitar makam. Sosok lainnya yakni makhluk besar setinggi bangunan juga kerap nampak setiap malam Jumat kliwon.

“Dulu noh banyak orang yang mau nyuri di sini, terus dari bawah sini suka keluar naga biar orang takut gitu pergi. Terus kalau malam Jumat kliwon, sering ada di pojokan sono cewek item, katanya sih kuntilanak item. Tapi ya tergantung niat kita kemari. Kalau gak ganggu, dia gak bakal ganggu juga,” ucap Nana.

Ketika makam itu selesai dan diresmikan pada tahun 1932, biayanya mencapai f 500.000 (sekitar US$ 250.000 pada saat itu; atau US$ 4,5 juta uang hari ini). Hal tersebut menyebabkan sensasi besar di kalangan pers kolonial Belanda dan Indonesia.

Salah satu komentator mencatat bahwa makam Khouw jauh lebih mahal dari makam miliarder pertama di Amerika Serikat, John D. Rockefeller. Setelah puluhan tahun diabaikan, Mausoleum O. G. Khouw menarik perhatian pecinta heritage di Jakarta, yang sekarang merawat dan menjaga situs sejarah ini.