Inilah Alasan Tradisi Ulur-Ulur di Telaga Buret Digelar

Inilah Alasan Tradisi Ulur-Ulur di Telaga Buret Digelar

Inilah Alasan Tradisi Ulur-Ulur di Telaga Buret DigelarMasyarakat yang tinggal di empat desa di Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, menggelar upacara adat Tradisi Ulur Ulur di Telaga Buret. Upacara ini merupakan bentuk rasa syukur mereka atas manfaat air Telaga Buret untuk kehidupan mereka.

Selama ini, air Telaga Buret digunakan untuk mengairi persawahan Desa Sawo, Gedangan, Ngentrong dan Gamping. Bahkan di musim kemarau saat ini, sawah milik warga di empat desa itu tetap mendapatkan aliran udara sehingga petani tidak khawatir terhadap kekeringan. Belum diketahui pasti tahun berapa upacara tradisi ulur-ulur di Telaga Buret, Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung bermula.

Belum ada sumber literatur yang menjelaskan terkait ritual tersebut. Namun masyarakat setempat meyakini upacara ini sudah berlangsung sejak masa lalu. Adanya daftar idn play poker android peristiwa 65 membuat pelaksanaan upacara ini berhenti selama 31 tahun, dan diadakan lagi pada tahun 1996.

1. Sejak tahun 1996 upacara diadakan kembali
Alasan Tradisi Ulur-Ulur di Tulungagung Tetap Digelar

Pamuji, salah seorang anggota Paguyuban Sendang Tirto Mulyo menuturkan pelaksanaan upacara tradisi ulur-ulur ini dahulu dilakukan secara bergiliran tiap desa. Warga tiga desa yakni Ngentrong, Sawo dan Gamping bergiliran mendatangi Telaga Buret pada bulan Selo untuk menggelar tradisi ini. Sebelumnya hanya tiga desa saja yang memanfaatkan air di telaga tersebut untuk keperluan irigasi. Desa Gedangan mulai ikut bergabung pada tahun 1996.

“Sejak tahun 1996 akhirnya konsep upacara dirubah seperti saat ini, tapi kalau yang memandikan patung itu sejak dulu,” ujarnya, Jumat (09/7/2021).

2. Patung yang dimandikan dipercaya pernah hidup di masa lalu
Alasan Tradisi Ulur-Ulur di Tulungagung Tetap Digelar

Patung yang dimandikan dalam upacara tradisi ini adalah perwujudan dari Dewi Sri dan Joko Sedono. Tak hanya sekedar simbol sandang dan pangan, sosok kedua nya ini juga diyakini oleh masyarakat sekitar pernah hidup di wilayah tersebut. Patung yang digunakan upacara saat ini terbilang masih baru dan dibuat sekitar tahun 1996. Sedangkan untuk patung yang asli sudah hilang saat peristiwa 65 lalu. “Dulu patungnya masih asli dan berada di kawasan telaga buret, tapi saat peristiwa 65 patungnya hilang, dan patung yang ada saat ini dibawa pulang setelah acara upacara selesai,” jelasnya.

3. Bencana alam selalu ada saat upacara tidak dilakukan
Alasan Tradisi Ulur-Ulur di Tulungagung Tetap Digelar

Selama upacara tradisi ulur-ulur ini ditiadakan, beberapa bencana kerap terjadi di desa tersebut. Bencana seperti puting beliung sering terjadi saat musim kemarau. Sesepuh desa kemudian berkumpul dan membahas kejadian bencana ini. Mereka kemudian sepakat untuk menggelar kembali upacara tradisi ulur-ulur, sebagai bentuk terimakasih dan syukur atas limpahan berkah. “Akhirnya setelah upacara kembali dilakukan bencana mulai jarang terjadi,” pungkasnya.

Ketua Panitia upacara tradisi Ulur Ulur, Heri Setiyono mengatakan, upacara tersebut sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu dan rutin digelar setiap bulan Selo dalam penanggalan jawa, pada hari Jumat Legi.

“Ini merupakan tradisi dan bentuk rasa syukur kami atas limpahan air dari Telaga Buret untuk mengairi sawah warga,” ujar Heri.

Upacara diawali dengan arak-arakan ratusan masyarakat membawa aneka sesajen yang diletakkan dalam tandu. Mereka kemudian meletakan sesajen di depan dua arca yang merupakan perwujudan dari Dewi Sri dan Joko Sedono. Kedua arca itu dipercaya sebagai simbol kemakmuran petani.

Dua arca tersebut kemudian dimandikan dan diberi hiasan berupa mahkota dari janur serta kalung ronce bunga melati. Beberapa warga kemudian menaburkan bunga di atas telaga.

“Selama ini petani di empat desa tidak pernah kekurangan air meskipun di daerah lain sedang musim kemarau,” jelasnya.

Tradisi ini menarik minat sejumlah wisatawan. Destiana, salah seorang pengunjung dari luar kota mengaku sengaja datang ke Telaga Buret untuk melihat proses ritual. Menurutnya, tradisi tersebut sangat unik dan tidak ditemui di tempat lain.

“Ini merupakan tradisi yang harus tetap dilestarikan dan dikembangkan, tentu akan menarik minat banyak wisatawan,” tulisnya.