Fakta Covid19 Telah Mengakibatkan Hampir 4JT Orang Meninggal

Fakta Covid19 Telah Mengakibatkan Hampir 4JT Orang Meninggal

Fakta Covid19 Telah Mengakibatkan Hampir 4JT Orang Meninggal – Menurut data dari worldometers.info, saat ini, tercatat sudah ada 180.779.194 kasus Covid-19 di seluruh dunia. Total 165.430.621 antaranya telah sembuh sedangkan 3.916.328 lainnya meninggal dunia. Kasus aktif di seluruh dunia tercatat 11.432.245.

Negara dengan jumlah kasus terbanyak ditempati oleh Amerika Serikat dengan total 34.464.956 kasus. India yang tengah menjadi sorotan karena lonjakan infeksi virus corona, per hari ini telah melaporkan 30.134.445 kasus dan catat 612.840 kasus aktif.

Saat ini masih ada 11.488.702 kasus aktif atau pasien yang masih terinfeksi Apk Poker 77 SARS-CoV-2. Secara rinci, sebanyak 11.408.153 kasus atau sekitar 99,3 persen merupakan pasien gejala ringan hingga sedang, dan 80.549 atau 0,7 persen sisanya merupakan pasien kritis.

1. Lima negara dengan kasus corona terbanyak
[UPDATE] Hampir 4 Juta Orang di Dunia Meninggal akibat COVID-19

Adapun lima besar negara dengan kasus corona terbanyak adalah:

1.     Amerika Serikat: 34.481.754 kasus positif,
2.     India: 30.182.469 kasus positif
3.     Brasil: 18.322.706 kasus positif
4.     Prancis: 5.766.315 kasus positif
5.     Turki: 5.309.088 kasus positif

Sementara, lima besar negara dengan kasus kematian terbanyak adalah:

1.     Amerika Serikat: 619.134 kasus kematian
2.     Brasil: 511.272 kasus kematian
3.     India: 394.524 kasus kematian
4.     Meksiko: 232.068 kasus kematian
5.     Peru: 191.286 kasus kematian

2. WHO memohon agar negara-negara kaya menyumbangkan vaksinnya
[UPDATE] Hampir 4 Juta Orang di Dunia Meninggal akibat COVID-19

World Health Organization (WHO), untuk yang kesekian kalinya, mengutarakan kegeramannya sebab negara-negara kaya enggan mendistribusikan vaksin bakal negara-negara miskin.

Ketika sejumlah negara produsen vaksin mulai memvaksinasi pemuda dan anak-anak, mereka tidak tergolong sebagai kelompok rentan, banyak negara di Afrika yang bahkan belum memvaksinasi tenaga kesehatannya.

“Dunia kita gagal, sebagai komunitas global kita gagal. Sekarang masalahnya adalah pasokan, beri saja kami vaksin,” kata Dirjen WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus saat konferensi pers, Jumat (25/6/2021).

“Perbedaan antara si kaya dan si miskin yang sekarang benar-benar mengekspos ketidakadilan dunia kita, ketidakadilan, ketidaksetaraan, mari kita hadapi itu,” tambah dia.

3. Indonesia peringkat 17 sebagai negara dengan kasus corona terbanyak
[UPDATE] Hampir 4 Juta Orang di Dunia Meninggal akibat COVID-19

Indonesia saat ini menempati peringkat 17 sebagai negara dengan kasus corona terbanyak, yaitu 2.072.867 kasus positif. Indonesia juga menempati peringkat yang sama untuk negara dengan kematian akibat COVID-19 terbanyak, yaitu 56.371 kasus.

Rata-rata kematian global adalah 2,1 persen. Semetara, tingkat mortalitas corona di Indonesia adalah 2,7 persen. Artinya, rata-rata orang yang meninggal di Indonesia akibat corona 0,6 persen lebih tinggi daripada rata-rata orang yang meninggal di dunia.

Dilansir dari laman Kementerian Kesehatan, jumlah masyarakat yang sudah divaksinasi dosis pertama mencapai 25.735.376 atau 63,78 persen dari total target. Sedangkan jumlah masyarakat yang sudah divaksinasi dua dosis mencapai 12.956.968, sekitar 32,11 persen. Sasaran target vaksinasi periode awal adalah 40.349.049, mencakup tenaga kesehatan, warga lanjut usia, dan petugas publik.

Secara global, lebih dari 3 juta orang meninggal dunia akibat virus corona, hingga akhir pekan kemarin. Banyak kabar-kabar yang masih mengkhawatirkan, hanya sedikit yang melegakan.

Menurut data dari Johns Hopkins University (JHU), jumlah tersebut hampir sama dengan jumlah populasi di kota Kyiv (Ukraina), Ccaracas (Venezuela) hingga Lisbon (Portugal). Jumlah tersebut juga lebih tinggi dari populasi di Kota Chicago (AS) sebanyak 2,7 juta jiwa dan setara dengan gabungan populasi dari kota Philadephia dan Dallas (AS).

Gerakan vaksinasi berlangsung cepat dilakukan oleh berbagai negara, namun kasus yang terus meningkat kembali memaksa diberlakukannya kembali lockdown dan pembatasan baru di seluruh dunia.