Deretan Lagu Anak yang Memiliki Kisah Horor Dibaliknya

Deretan Lagu Anak yang Memiliki Kisah Horor Dibaliknya

Deretan Lagu Anak yang Memiliki Kisah Horor Dibaliknya – Lagu anak-anak adalah lagu yang dirancang sedemikian rupa, baik lirik maupun melodinya sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan anak. Melodi lagu anak umumnya bertempo sedang dan kaya pengulangan.

Sementara liriknya disusun dengan bahasa yang sederhana, mudah diucapkan, dan kaya pengulangan. Lagu adalah salah satu media untuk menurunkan budaya dan kisah leluhur kepada generasi selanjutnya. Umum dinyanyikan oleh atau bersama anak-anak, lirik-lirik lagu anak umumnya terdengar ramah dan memiliki makna kehidupan.

Akan tetapi, apakah benar seperti itu? Menilai gelapnya masa lalu, lagu anak-anak dari zaman dulu sebenarnya telah melewati berbagai perubahan. Aslinya? Ternyata, lagu-lagu anak ini diketahui memiliki kisah latar belakang yang tak secerah liriknya.

1. Ba, Ba, Black Sheep
Baa Baa Black Sheep + More Nursery Rhymes & Kids Songs - CoComelon - YouTube

Sebagai salah satu lagu anak paling populer di dunia, lirik “Baa, Baa, Black Sheep” diketahui lewat Tommy Thumb’s Pretty Song Book pada 1744. Apakah benar lagu ini tentang domba hitam atau black sheep? Ada beberapa tafsiran mengenai lagu anak yang sekarang nadanya lebih identik dengan “Johnny Johnny Yes Papa” ini yaitu:

  • Bentuk protes terhadap pajak perdagangan wol di Inggris sejak abad ke-13. Karena perdagangan wol yang marak, Raja Edward I (1239–1307) mematok pajak yang tinggi. Sang raja menerima sepertiga, dan dua pertiga diberikan pada petani serta gereja. Alhasil, anak-anak kaum jelata yang tinggal di jalanan tidak kebagian.
  • Kata “black” di sini juga konon merujuk pada praktik perdagangan budak kulit hitam di Inggris. Tidak heran, pada 2014, beberapa guru taman kanak-kanak di Australia sempat mengganti lirik “black” agar tidak terdengar rasis.

Akan tetapi, perlu dicatat bahwa tidak ada bukti sejarah nyata mengenai tuduhan terhadap Raja Edward I atau rasisme dalam “Baa, Baa, Black Sheep“. Malah, sebenarnya, wol domba hitam seharusnya mahal karena bisa ditenun jadi pakaian tanpa proses pewarnaan lagi.

2. Rock-a-Bye Baby
Rock by baby - YouTube

Ini bukan lagu Clean Bandit dengan Anne Marie! Dipertunjukkan secara perdana dalam buku Mother Goose’s Melody pada 1765 oleh John Newberry, “Rock-a-Bye Baby” umum sebagai lagu ninabobo anak di budaya Barat. Lagu ini memiliki beberapa teori asal-usulnya, yaitu:

  • Dituliskan pada abad ke-17 oleh kolonis Inggris di benua Amerika, lagu ini melibatkan keheranan terhadap praktik penduduk asli Amerika yang membedung bayi mereka di atas pohon. Masalahnya, jika ranting pohon itu patah, maka bayi bisa jatuh dan meninggal (When the bough breaks the cradle will fall, down tumbles baby, cradle and all).
  • Paling terkenal, lagu ini menceritakan kisah kejatuhan Raja James II (1633–1701). “Bayi” dalam lagu ini adalah anak James Francis Edward (1688–1766). Karena istri James II, Mary di Modena (1658–1718), sudah memasuki masa menopause dan bayinya lahir mati, maka Edward dirumorkan adalah anak pungut untuk menjaga garis keturunan bangsawan Katolik. “Angin” yang mengguncang adalah William III (1650–1702) dari Belanda yang menjatuhkan James II dan Wangsa Stuart pada 1688.
3. Ring a Ring O’ Roses
Ring A Ring O Roses | Nursery Rhymes App for Kids - Android, iPhone and iPad

Bila kamu memainkan game smartphone Plague Inc., kamu mungkin akan mendengar lagu ini sekilas. Muncul secara perdana pada 1881, “Ring a Ring O’ Roses” sekilas terdengar seperti anak-anak yang sedang merangkai karangan bunga mawar. Benarkah seperti itu?

Faktanya, sejak akhir Perang Dunia II (PD2), lagu ini konon menceritakan tragisnya Kematian Hitam/Black Death (1347-1351) atau Wabah Besar London (1655) yang menyapu populasi Inggris. Jika dibedah, maka Ring a Ring O’ Roses menceritakan:

  • Ring a ring o’ roses”: Salah satu gejala penyakit yang paling menonjol adalah ruam seperti cincin kemerahan pada kulit.
  • A pocket full of posies”: Posies adalah bunga atau tumbuhan beraroma segar untuk mengusir bau mayat di sekitar yang umumnya diletakkan di kantung pakaian. Selain itu, posies juga digunakan untuk mencegah agar tidak tertular.
  • A-tisshoo” (atau “Ashes” di versi Amerika Serikat): Sekilas seperti suara bersin, ini adalah salah satu gejala umum pada pasien wabah besar tersebut. Sementara, ashes atau abu adalah simbol dari jenazah para pasien wabah yang harus dikremasi akibat lahan makam yang berkurang.
  • We all fall down“: Bukan rahasia kalau kedua wabah tersebut hampir menghabisi populasi Eropa, terutama Black Death yang menghabisi 30-60 persen populasi Eropa.

Akan tetapi, tidak sedikit pakar yang menentang hal ini. Oleh karena itu, latar belakang Ring a Ring O’ Roses masih diperdebatkan. Akan tetapi, teori-teori tersebut sudah keburu beredar luas.

4. Eeny, Meeny, Miny, Moe
Kids Songs - EENY MEENY MINEY MOE - Nursery Rhymes Songs for babies - Vidéo  Dailymotion

Ibarat “Cap, Cip, Cup” di budaya Barat, kemunculan “Eeny, Meeny, Miny, Moe” masih samar, tetapi terdeteksi pada abad ke-19. Di lirik terkini lagu ini, konon kamu “menangkap seekor harimau dari jari kakinya”. Akan tetapi, menjelang akhir abad ke-19, lagu ini sebenarnya memiliki artian gelap.

Eeny, Meeny, Miny, Moe” dinyanyikan oleh orang-orang kaya yang sedang memilih budak kulit hitam yang marak diperdagangkan. Jadi, jika dinyanyikan aslinya, maka kata “Tiger” diganti menjadi “N***er“. Konon, kalau sang budak tidak berlaku baik, maka tidak dipilih dan disiksa.

5. Pop Goes the Weasel
Pop Goes the Weasel with Lyrics | Music Videos | BabyFirst TV - YouTube

Terdengar untuk pertama kali pada 1852 di Inggris, “Pop Goes the Weasel” memiliki makna yang menyedihkan. Lagu ini menceritakan kisah rakyat kelas sosial ekonomi menengah ke bawah yang hidup susah, tetapi ingin bersenang-senang dengan minum alkohol.

Konon, lirik tersebut mengisyaratkan kalau gaji pekerja di masa itu amat rendah. Lalu, apakah “Weasel” di sini berarti cerpelai yang kecil nan lucu? Interpretasinya berbeda-beda. Bisa jadi mantel kulit yang digunakan para pekerja, peralatan pengrajin topi, hingga ukuran untuk menenun.

Di bait selanjutnya, konon para pekerja menghabiskan uang ke EagleEagle sendiri adalah bar di City Road, London. Lalu, saat uang mereka habis, maka mereka menggadaikan mantel kulit cerpelai mereka untuk membeli minuman.

6. Humpty Dumpty
Humpty Dumpty 🥚 Lagu Anak | BST Kids Bahasa Indonesia - YouTube

Diterbitkan pertama kali pada 1797 dalam Juvenile Amusements karangan Samuel Arnold, “Humpty Dumpty” populer di masa kini sebagai makhluk seperti telur dari Through the Looking-Glass (1871). Lagu anak-anak ini menceritakan sesosok bernama Humpty Dumpty yang jatuh dari tembok dan tercerai berai. Kira-kira apa maknanya?

Salah satu teori dari abad ke-20 menyatakan bahwa Humpty Dumpty adalah Raja Richard III (1452–1485). Digambarkan bungkuk, Richard III konon wafat setelah kalah di Pertempuran Bosworth (1485). Sesuai dengan liriknya, terlepas dari tentara Richard III yang lebih banyak, sang raja tetap kalah dan wafat.

7. London Bridge Is Falling Down

London Bridge Is Falling Down - Kids songs and Nursery Rhymes by EFlashApps  - YouTube

Muncul juga dalam Tommy Thumb’s Pretty Song Book pada 1744, “London Bridge Is Falling Down” adalah lagu anak mengenai kondisi Jembatan London yang semakin termakan usia. Tetapi, mengapa sampai dijadikan lagu? Ada dua teori menakutkan dari lagu ini.

Pertama, lagu ini menggambarkan jatuhnya serangan kaum Viking yang dipimpin oleh Raja Norwegia Olaf II (995–1030). Sebuah sajak oleh Óttarr svarti di Heimskringla juga mengisahkan tentang kejatuhan Jembatan London. Akan tetapi, beberapa bukti sejarah meragukan insiden sejarah ini.

Kedua dan yang paling mengerikan adalah praktik takhayul di Inggris. Konon, dalam pembangunan Jembatan London, tumbal manusia dibutuhkan agar jembatan ini tetap berdiri. Oleh karena itu, anak-anak hingga petugas jembatan dikorbankan. Namun, tak ada bukti arkeologi mengenai hal ini.

8. Three Blind Mice
3D Animation Three Blind Mice English Nursery Rhyme for children with  lyrics - YouTube

Ditunjukkan pertama kali pada 1609 di Deuteromelia or The Seconde part of Musicks melodie, penggubah “Three Blind Mice” tidak diketahui. Namun, dibandingkan mencari penulisnya, arti dari lagu inilah yang diperdebatkan.

Konon, “Three Blind Mice” menceritakan rezim Ratu Mary I (1516–1558) yang dijuluki Bloody Mary. Menurut lagu ini, sang ratu membutakan dan menghukum mati tiga petinggi aliran Protestan di Oxford, yaitu dua uskup Anglican Hugh Latimer, Nicholas Ridley, dan Uskup Agung Thomas Cranmer.

Namun, teori ini terbantahkan karena para “Martir Oxford” tersebut dibakar, bukan dibutakan. Kemungkinan besar, istilah “buta” di sini disematkan oleh para petinggi Katolik untuk menjelekkan aliran Protestan.

Lagu merupakan gubahan seni nada atau suara dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal (biasanya diiringi dengan alat musik) untuk menghasilkan gubahan musik yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan (mengandung irama). Dan ragam nada atau suara yang berirama disebut juga dengan lagu.

Lagu dapat dinyanyikan secara solo, berdua (duet), bertiga (trio) atau dalam beramai-ramai (koir). Perkataan dalam lagu biasanya berbentuk  puisi  berirama, namun ada juga yang bersifat keagamaan ataupun prosa bebas. Lagu dapat dikategorikan pada banyak jenis, bergantung kepada ukuran yang digunakan.

Nyanyian adalah syair yang dilafalkan sesuai nada, ritme, birama, dan melodi tertentu hingga membentuk harmoni. Nyanyian sering juga disebut sebagai lagu yang berarti gubahan seni nada atau suara dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal (biasanya diiringi dengan alat musik) untuk menghasilkan gubahan musik yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan (mengandung irama). Dan ragam nada atau suara yang berirama disebut juga dengan lagu.