Deretan Festival Orang Mati yang Terkenal Dari Penjuru Dunia

Deretan Festival Orang Mati yang Terkenal Dari Penjuru Dunia

Deretan Festival Orang Mati yang Terkenal Dari Penjuru Dunia – Roh adalah unsur non-materi yang ada dalam jasad yang diciptakan Tuhan sebagai penyebab adanya kehidupan. Roh adalah pengendali jiwa dan raga, roh bertindak sebagai pikiran jiwa dan raga, jiwa merasakan seolah-olah pikiran itu asli dari diri sendiri, sebenarnya roh itulah yang bersandiwara sebagai pikiran manusia.

Bukan hanya merayakan kehidupan, beberapa festival dari seluruh penjuru dunia pun ada yang diadakan untuk mengenang mereka yang telah wafat sebelum kita. Terlihat menyeramkan, perayaan sebenarnya terkesan khusyuk dan penuh sukacita. Pada 2 November 2020, Meksiko merayakan Dia de los Muertos untuk mengenang mereka yang telah meninggal. Kepercayaan tradisional Mesoamerika khas Meksiko tersebut kemudian bercampur dengan kentalnya ritual keagamaan Katolik.

Begitu pun dengan beberapa hari raya orang mati lainnya yang turut tercampur dengan kepercayaan lain, sehingga memiliki kesamaan dari tanggal hingga asal-usul. Tentu saja, beda negara, beda juga perayaan yang dirayakan. Namun, esensinya tetap sama, yaitu berkumpul bersama sanak saudara lain, mengingat mereka yang kita sayang, dan menghidupkan kembali kebiasaan kuno.

1. Zhongyuan Jie/Ulambana
Syahdu, 6 Hari Raya Mengenang Arwah Paling Populer di Dunia

Jatuh pada malam ke-15, bulan ke-7 penanggalan Imlek yang dikenal juga sebagai “Bulan Hantu”, Zhongyuan Jie (Festival Arwah yang Lapar) atau Ulambana adalah hari raya orang mati dari daratan Tiongkok yang kental dengan agama Buddha. Pada “Bulan Hantu”, konon katanya, gerbang alam baka terbuka dan arwah-arwah berkeliaran di Bumi.

Oleh karena itu, dalam rangka Ulambana, biasanya orang-orang akan mempersembahkan makanan khusus sebagai sesajen, membakar uang arwah atau model rumah-rumahan dan kendaraan agar tidak diganggu. Selain itu, pertunjukan (getai) pun digelar di jalan-jalan, sehingga keadaan menjadi riang gembira.

Ada beberapa kepercayaan yang harus diwaspadai, seperti tidak memakai pakaian merah, dan menyisakan bangku kosong untuk para arwah. Biasanya, saat pertunjukan getai, bangku-bangku di depan dibiarkan kosong, untuk para arwah!

Selain itu, terdapat kebiasaan menebar beras atau bahan makanan lain, sebagai persembahan. Sebagai penutup, lilin dan lentera dinyalakan untuk menuntun para arwah pulang.

2. Obon
Syahdu, 6 Hari Raya Mengenang Arwah Paling Populer di Dunia

Sama seperti Zhongyuan Jie, festival Obon di Jepang juga dirayakan pada malam ke-15 di bulan ke-7 penanggalan Imlek. Asal-usulnya pun sama-sama dari akar agama Buddha! Bagi mereka, saat itu, gerbang alam baka terbuka dan arwah-arwah bebas berkeliaran di Bumi, sehingga persembahan dan pertunjukan pun dilangsungkan agar tidak diganggu.

Menurut legenda Jepang, festival Obon diawal dari seorang murid Buddha bernama Mokuren yang sedih melihat arwah ibunya jatuh ke neraka. Menurut nasihat Buddha, Mokuren memberikan persembahan pada rombongan rahib yang lewat pada malam ke-15 bulan ke-7. Lega karena arwah ibunya tenang, Mokuren pun menarikan tarian yang disebut “Tarian Obon”/Bon Odori.

Telah diadakan di Jepang selama lebih dari 500 tahun, inilah festival di mana keluarga di Jepang berkumpul dan mengenang leluhur. Mereka pun juga mengunjungi makam orang-orang tersayang dan membersihkannya.

Selain itu, di festival ini pun juga umum melihat pertunjukan tarian Obon. Kemudian, di perayaan Mitama Matsuri pada puncak hari Obon, mereka menyalakan lentera dan lilin untuk membimbing para arwah kembali ke tempat asalnya.

3. Chuseok
Syahdu, 6 Hari Raya Mengenang Arwah Paling Populer di Dunia

Sebelum terpecah dua, baik Korea Utara dan Selatan sama-sama merayakan Chuseok atau Hangawi pada malam ke-14, bulan ke-8 penanggalan Imlek. Oleh karena itu, Chuseok memiliki arti “Malam Musim Semi” dan juga digelar untuk merayakan musim panen. Terdapat tiga jenis ritual yang lumrah dilakukan saat Chuseok:

  • Charye: Memberikan persembahan untuk arwah.
  • Seongmyo: Ziarah ke makam leluhur atau anggota keluarga yang telah meninggal.
  • Beolcho: Membersihkan makam.

Untuk charye, biasanya persembahan adalah daging, nasi, buah, dan minuman yang disukai oleh kerabat selama hidupnya dulu. Selain itu, nisan yang bertuliskan nama sang arwah ditempatkan sebagai tanda kehadiran mereka. Charye biasanya dilakukan bersamaan dengan jesa, ritual untuk memperingati hari kematian mereka yang disayang.

4. All Souls’ Day/Hari Arwah
Syahdu, 6 Hari Raya Mengenang Arwah Paling Populer di Dunia

Sering dipukul rata dengan hari raya Halloween, festival mengenang arwah yang berakar dari kepercayaan Katolik tradisional, All Souls’ Day atau Hari Arwah, mengenang arwah mereka yang telah meninggal, dari yang beriman hingga yang masuk ke Api Pencucian karena dosa-dosa mereka.

All Souls’ Day termasuk dalam tiga hari raya arwah (Allhallowtide), yaitu All Hallows’ Eve (Halloween) pada 31 November dan All Saints’ Day pada 1 November. Berpakaian ungu atau hitam, biasanya Hari Arwah diperingati umat Katolik dan Kristen (Lutheran, Metodis, dan Anglikan) dengan mengunjungi makam mereka dan mendoakannya agar dapat beristirahat dengan tenang.

Di beberapa perayaan, kue arwah (soul cake) diberikan pada anak-anak atau kaum papah agar dapat ikut mendoakan arwah-arwah tersebut.

5. Khamis al-Asrar/Kamis Putih
Syahdu, 6 Hari Raya Mengenang Arwah Paling Populer di Dunia

Di Timur Tengah, kaum Muslim dan Nasrani sama-sama merayakan hari orang mati pada hari Kamis, yaitu Khamis al-Asrar dan Kamis Putih. Perayaan hari raya arwah pada Kamis ini konon katanya berasal dari inisiatif pemimpin Dinasti Ayyubiyah pada abad ke-12, Salahuddin, untuk mempersatukan kaum Muslim dan Nasrani di daerah Syam/Levant.

Meskipun sama-sama mengenang hari kematian, namun esensi yang dirayakan benar-benar berbeda! Sementara Kamis Putih dirayakan pada malam hari di hari Kamis untuk memperingati Perjamuan Terakhir Yesus Kristus sebelum disalibkan, Khamis al-Asrar dirayakan pada pagi hari dengan mengunjungi kuburan saat fajar dan membagikan makanan kepada kaum duafa dan anak-anak.

6. Pitru Paksha
Syahdu, 6 Hari Raya Mengenang Arwah Paling Populer di Dunia

Dirayakan selama 16 hari kalender bulan selama bulan Bhadrapada (September)  atau Aswin (September/Oktober), Pitru Paksha adalah hari raya arwah yang dirayakan oleh pemeluk agama Hindu untuk mengenang arwah-arwah, dari yang wafat secara mendadak atau tragis, yang terdekat, hingga yang baru meninggal.

Menurut kepercayaan Hindu, Pitru Paksha terjadi saat Surya (matahari) memasuki rasi bintang Kanya (Virgo). Gerbang Pitriloka (alam baka) akan terbuka dan arwah-arwah tinggal di kediamannya saat masih hidup selama sebulan hingga Surya masuk ke rasi bintang Vrischika (Scorpio) dan bertepatan dengan bulan purnama. Selama dua minggu pertama, Pitru Paksha dirayakan untuk menenangkan mereka.

Saat merayakan Pitru Paksha, umat Hindu (terutama anak laki-laki) melakukan shraddha atau tindakan baik berupa berziarah ke makam leluhur dan membagi-bagikan sedekah dan makanan untuk kaum yang membutuhkan. Tidak jarang, umat Hindu juga berpantang dan menyingkirkan pikiran jahat selama Pitru Paksha sebagai bentuk Shraddha.

Syahdu, 6 Hari Raya Mengenang Arwah Paling Populer di Dunia

“Kapan seseorang mati? Apakah saat mereka ditembak dengan pistol? Tidak. Saat mereka mengidap penyakit yang tidak bisa disembuhkan? Tidak. Saat mereka makan sup yang beracun? Tidak. Saat mereka dilupakan!”

Itulah kata Eiichiro Oda, mangaka seri One Piece. Dengan kata lain, selama kita mengenang mereka yang kita cintai dengan segenap hati, maka mereka akan terus hidup di hati kita. Perayaan hari raya arwah di seluruh dunia memiliki dua esensi: mengenang mereka yang telah meninggal dan berkumpul kembali bersama anggota keluarga sambil memelihara adat istiadat leluhur.

Seperti yang kamu lihat, kebanyakan dari ritual hari raya arwah tersebut sudah terintegrasi dengan kepercayaan-kepercayaan masa kini. Menurut  agama Islam, manusia merupakan makhluk terakhir yang diciptakan Allah Ta’ala, setelah diciptakan-Nya makhluk lain seperti malaikat, jin, alam semesta, hewan (binatang), tumbuhan dan lainnya.

Allah menciptakan manusia dengan dipersiapkan untuk menjadi makhluk yang paling sempurna. Karena, manusia diciptakan untuk menjadi  khalifah (pemimpin) di muka bumi dan memakmurkannya. Potensi lain yang dimiliki oleh manusia adalah ruh.