Deretan Fakta Peradaban Sao yang Terlihat Sangat Misterius

Deretan Fakta Peradaban Sao yang Terlihat Sangat Misterius

Deretan Fakta Peradaban Sao yang Terlihat Sangat Misterius – The Sao peradaban (juga disebut Jadi ) berkembang di Afrika Tengah dari ca. abad keempat atau keenam SM sampai akhir abad keenam belas Masehi. Suku Sao tinggal di dekat lembah Sungai Chari di wilayah yang kemudian menjadi bagian dari Kamerun dan Chad. Mereka adalah peradaban paling awal yang meninggalkan jejak jelas keberadaan mereka di wilayah Kamerun modern.

Sekitar abad ke-16, konversi ke Islam mengubah identitas budaya Sao sebelumnya. Saat ini, beberapa kelompok etnis di Kamerun utara dan Chad selatan, terutama Sara , Kotoko, mengklaim keturunan dari peradaban Sao. Peradaban Sao adalah salah satu peradaban mayor di Benua Afrika yang ada sejak abad ke-6 SM.

Tentu saja, Afrika memiliki berbagai peradaban besar dan terkenal, seperti Mesir Kuno dan Songhai, yang jauh lebih populer di telinga kebanyakan orang. Alhasil, keberadaan Sao seakan-akan tenggelam dan sangat jarang dibahas atau diinformasikan kepada publik. Kenyataannya, peradaban yang berpusat di kawasan Afrika Tengah ini masih memiliki kontribusi dalam pembentukan sejarah, budaya, dan identitas negara-negara di area tersebut.

1. Berhasil bertahan selama 2000 tahun

Peradaban Sao dimulai sejak abad ke-6 SM dan mendominasi wilayah negara Chad, Kamerun, dan Republik Afrika Tengah. Kultur besar ini sebenarnya dianggap sebagai yang tertua di kawasannya. Meskipun sama sekali tidak terkenal, peradaban ini ternyata tetap bertahan selama 2000 tahun, lho!

Kebanyakan peneliti meyakini bahwa Peradaban Sao yang asli berakhir karena adanya perpecahan/perpisahan budaya yang mungkin terjadi sejak awal abad ke-16 M. Di yang sama, penjajahan oleh Kekaisaran Kanem-Bornu juga dianggap sebagai sebuah alasan kuat yang lainnya.

2. Berdomisili di sekitar Sungai Chari yang punya sejarah konflik berdarah
5 Fakta Peradaban Sao, Komunitas Misterius di Afrika Tengah

Sungai Chari adalah sungai besar yang bermuara dari Danau Chad dan menjadi batas negara sebagian wilayah Kamerun dan Chad. Komunitas Sao yang dulunya tinggal di sekitar sungai ini merupakan keputusan yang tepat karena daratan disekitarnya sangatlah subur dan “ramah” terhadap kegiatan perikanan maupun peternakan.

Kini, Sungai Chari beberapa kali menjadi perebutan di antara masyarakat perbatasan di 2 negara yang berbagi sungai tersebut. Dilansir VOA, pernah terjadi konflik berkepanjangan antara peternak dan nelayan yang sama-sama memperebutkan sumber air dari Sungai Chari di bulan Agustus kemarin. Permasalahan tersebut sesungguhnya cukup parah karena dilaporkan sudah memakan kurang lebih 100 korban jiwa dan menyebabkan banyak desa terbakar, sehingga ribuan penduduk setempat terpaksa mengungsi.

3. Diyakini sebagai keturunan Dinasti Hyksos di Mesir
5 Fakta Peradaban Sao, Komunitas Misterius di Afrika Tengah

Sebuah teori yang sangat dipercaya oleh ilmuwan hingga saat ini menyatakan bahwa orang-orang Sao sebenarnya berasal dari keturunan bangsa Hyksos, komunitas asing yang berhasil menjajah Mesir dan menguasai negara tersebut. Peradaban Sao diyakini sebagai warisan orang-orang Hyksos yang kabur ke selatan setelah kekuasaannya tumbang akibat serangan dari bangsa lain. Di sisi lain, ada yang beropini bahwa komunitas Sao hanyalah suatu suku asli di Afrika Tengah yang memang mengalami kemajuan pada masanya.

4. Memiliki seni patung yang ‘mencengangkan’
5 Fakta Peradaban Sao, Komunitas Misterius di Afrika Tengah

Seni sebagai salah satu sarana berekspresi manusia tentu tidak dapat terpisahkan dari suatu kebudayaan atau peradaban khas suatu bangsa. Peradaban Sao juga dipastikan memiliki artisan handal yang menghasilkan beragam karya seni berdasarkan temuan-temuan arkeologi di wilayah domisilinya. Tembaga, perunggu, besi, atau terakota merupakan beberapa pilihan material yang sering digunakan para perajinnya dalam memproduksi guci, tembikar, dan patung manusia atau hewan.

Namun, karya budaya Sao yang mungkin paling terkenal karena keunikannya adalah seni patungnya. Figur-figur “manusia” yang menjadi ciri khas patung Sao sebenarnya adalah perwujudan antropomorfisme (penggabungan ciri-ciri manusia dan makhluk bukan manusia) yang sekaligus menjadi bukti kekreativitasan dan kemajuan berpikir pada era peradaban kuno ini.

5. Konversi ke agama Islam
5 Fakta Peradaban Sao, Komunitas Misterius di Afrika Tengah

Orang-orang Sao sebenarnya merupakan kumpulan suku yang masih sedarah yang bersatu dalam satu ras, agama, dan bahasa. Mereka semua akhirnya menganut agama Islam ketika orang-orang Timur Tengah menjelajah sambil mengenalkan agamanya ke kawasan Sao mulai sekitar abad ke-14 M.

Ketika jatuh ke tangan Kekaisaran Kanem tidak lama kemudian, masyarakat Sao sudah hidup dalam pemerintahan atau politi Islam. Salah satu bukti pendukung hal ini yang masih selamat adalah gedung milik sultan di Desa Gaoui, ibukota Peradaban Sao. Meskipun sudah punah, peradaban ini juga dipercaya memiliki keturunan yang kini masih hidup di Kamerun dan mayoritas juga beragama Islam, yaitu suku/etnis Kotoko.

Peradaban Sao memang cukup misterius karena tidak banyak peninggalan-peninggalan yang masih selamat sampai hari ini. Terlebih lagi, kejayaan peradaban ini semata-mata diketahui berdasarkan cerita-cerita penduduk lokal di sekitar Sungai Chari yang juga mengklaim sebagai keturunan Sao. Para peneliti juga masih mempelajari dan mencari-cari warisan budaya Sao yang lainnya. Mudah-mudahan ulasan singkat ini bisa memikat ketertarikanmu dalam bidang sejarah yang terlupakan, ya!

Telah dikemukakan bahwa Sao adalah keturunan Hyksos yang menaklukkan Mesir Kuno sehingga mereka pindah ke selatan dari lembah Nil ke Afrika tengah di bawah tekanan dari penjajah, atau bahwa mereka berasal dari Bilma Oasis di utara danau Chad.  

Namun, teori yang lebih diterima secara luas adalah bahwa Sao hanyalah penduduk asli lembah Danau Chad dan bahwa asal usul utama mereka terletak di selatan danau. Dan penelitian arkeologi baru-baru ini menunjukkan bahwa peradaban Sao berkembang secara asli dari budaya sebelumnya di wilayah tersebut (seperti budaya Gajiganna, yang dimulai sekitar 1.800 SM dan mulai membangun kota berbenteng sekitar 800 SM), secara bertahap semakin kompleks.