Deretan Dewa Keberuntungan yang Berada Dalam Mitologi Jepang

Deretan Dewa Keberuntungan yang Berada Dalam Mitologi Jepang

Deretan Dewa Keberuntungan yang Berada Dalam Mitologi Jepang – Mitologi Jepang adalah mitologi yang disampaikan secara turun temurun di Jepang. Dalam mitologi Jepang terdapat keyakinan pada kelompok dewa yang sangat terkenal dinamakan Shichi Fuku Jin yang berarti tujuh dewa kemakmuran atau keberuntungan.

Sebenarnya ada ribuan dewa dewi di Jepang namun yang paling dikenal umum oleh masyarakat Jepang ialah tujuh dewa keberuntungan tersebut. Meski kebudayaan Jepang kini sudah modern namun ketujuh dewa-dewi ini tidak dilupakan sebagai sejarah kebudayaan dan kepercayaan, lho. Seperti apakah tujuh dewa keberuntungan itu, berikut ini dilansir berbagai sumber.

Di zaman kuno, setiap daerah di Jepang diperkirakan memiliki sejenis kepercayaan dalam berbagai bentuk dan folklor. Bersamaan dengan meluasnya kekuasaan Kekaisaran Yamato, berbagai macam kepercayaan diadaptasi menjadi Kunitsugami atau “dewa yang dipuja” yang bentuknya menjadi hampir seragam, dan semuanya dikumpulkan ke dalam “mitologi Takamanohara”.

1. Ebisu
7 Dewa Keberuntungan dalam Mitologi Jepang, Siapa Saja?

Ebisu merupakan satu-satunya dewa asli asal Jepang dalam kelompok tuju dewa ini. Ebisu adalah dewa keberuntungan dan kekayaan laut yang dipercaya merupakan dewanya para pengusaha, pebisnis dan para nelayan karena dapat membawakan kemakmuran dalam berusaha.

Dewa Ebisu ialah anak dari Daikoku yang merupakan dewa kemakmuran juga. Ebisu digambarkan sebagai pria berbadan gemuk yang membawa seekor ikan atau alat pancing.  Itulah mengapa Ebisu adalah dewa yang dipercaya dapat mendatangkan tangkapan ikan yang melimpah bagi para nelayan.

2. Bishamonten
7 Dewa Keberuntungan dalam Mitologi Jepang, Siapa Saja?

Bishamonten adalah dewa perang yang aslinya dari India bernama Vaisravana. Namun Bishamonten ini sering disalah artikan sebagai dewa perang lho, sebenarnya ia merupakan dewa misionaris buddhis.

Digambarkan Bishamon berwajah garang, selalu memakai baju zirah dan membawa pedang anti marabahaya. Bishamon memiliki tubuh tinggi berjenggot, membawa pagoda ditangannya sebagai lambang kepercayaan dan memiliki seorang utusan yaitu seekor penguin.

Bishamonten merupakan dewanya para dokter, tentara dan biksu karena mampu mendatangkan kebahagiaan, kekayaan dan ketulusan. Selain itu Bishamon juga dipuja karena dapat membuat iblis menjauh.

3. Benzaiten
7 Dewa Keberuntungan dalam Mitologi Jepang, Siapa Saja?

Benzaiten atau Benten adalah satu-satunya dewi di kelompok tujuh dewa keberunungan. Benzaiten merupakan dewa buddhis yang berasal-usul dari dewi Sarasvati di India. Ia adalah dewi musik, seni, dan kecerdasan. Dewi Benten dikenal sebagai dewi yang pencemburu namun juga dewi yang mewakili sukacita.

Ia digambarkan sebagai seorang dewi yang cantik, membawa alat musik Biwa (Kecapi Jepang) dan tubuhnya dilingkari oleh ular putih. Benzaiten adalah dewi pelindung bagi para seniman dan seorang entertainer. Benten juga melambangkan air yang melinduingi para pelajar. Terdapat kuil lho untuk memuja Benzaiten di Enoshima.

4. Hotei
7 Dewa Keberuntungan dalam Mitologi Jepang, Siapa Saja?

Dewa Hotei merupakan dewa yang dijuluki dewa gemuk, selain itu ia juga dijuluki Budha ketawa. Hotei adalah dewa dari titisan Bodhisatva Maitreya, seorang biksu yang pernah mendatangi daratan Tiongkok.

Hotei digambarkan berpenampilan seperti pengemis bertubuh gempal dan berkepala gundul. Hotei selalu tersenyum riang, membawa tas besar dan dikatakan sebagai pembawa keberuntungan. Ia sejatinya adalah pelindung bagi anak-anak dan nelayan.

Patung dewa Hotei dapat ditemukan di sejumlah negara seperti Jepang, Vietnam, Thailand, dan juga India. Di Jepang sendiri patungnya dapat kalian temukan di Kamakura.

5. Fukurokuju
7 Dewa Keberuntungan dalam Mitologi Jepang, Siapa Saja?

Dewa Fukurokuju dipercaya dapat mendatangkan kamakmuran dan umur yang panjang. Dari namanya sendiri Fuku berarti kebahagiaan, Roku berarti kekayaan, dan Ju berarti panjang umur. Fukurokuju merupakan pelindung bagi para atlet dan tukang jam.

Ia sering digambarkan selalu bersama burung bangau atau kura-kura. Bertubuh tinggi karena kepalanya yang besar dan panjang. Matanya besar berjenggot putih dan berpakaian seperti seorang sarjana di Tiongkok pada zaman dulu.

6. Jurojin
7 Dewa Keberuntungan dalam Mitologi Jepang, Siapa Saja?

Jurojin adalah dewa kebijaksanaan yang berasal dari Tiongkok. Merupakan biksu Tao yang membawa tongkat dengan bungkusan yang di ikatkan di ujungnya. Konon hal tersebutlah yang mendatangkan kebijaksanaan. Jurojin juga dipercaya mampu mendatangkan umur yang panjang.

Jurojin sering digambarkan bersama seekor rusa. Ia juga merupakan dewa pemabuk dan gemar bermain wanita. Namun Jurojin merupakan dewa pelindung bagi kaum intelek seperti guru, ilmuwan, dan dosen. Terkadang dewa Jurojin dan Fukurokujo sering tertukar oleh orang-orang.

7. Daikokuten
7 Dewa Keberuntungan dalam Mitologi Jepang, Siapa Saja?

Daikokuten juga adalah dewa yang diataptasi dari dewa kematian asal India bernama Mahakala. Daikokuten juga dianggap sebagai dewa perang, namun sebenarnya ia adalah dewa kekayaan dan kemakmuran.

Daikokuten memiliki tubuh pendek menggunakan pakaian Tiongkok, berkaki kecil dan berjenggot. Ia juga membawa palu emas dan kantung sebagai lambang bahwa daikokuten adalah dewa pelindung bagi pengusaha, pengrajin, dan orang yang bergelut di bidang keuangan. Selain itu Daikokuten juga dipercaya merupakan pemburu hantu.

Pada abad pertengahan berkembang mitologi Jepang abad pertengahan  (Chūsei Nihongi) dengan isi yang berbeda dari mitologi sebelumnya. Mitologi Jepang abad pertengahan tetap berpedoman pada Nihonshoki tetapi dikembangkan hingga menjadi sangat berbeda dengan versi aslinya. Mitologi Jepang abad pertengahan ditemukan dalam epik perang seperti Taiheiki, buku penggubahan syair dan anotasinya, serta berbagai Engi (buku catatan asal usul dan sejarah milik kuil agama Buddha dan Shinto).

Dalam mitologi Jepang abad pertengahan, berbagai kami dalam Kojiki dan Nihonshoki berdasarkan teori Honji suijaku dikenali sebagai perwujudan sementara para Buddha dan Bodhisattva atau dianggap sejajar. Selain itu, mitologi Jepang abad pertengahan bercampur dengan unsur-unsur yang diambil dari seni dan cerita rakyat, mitologi berbagai daerah, serta menampilkan tingkat kedewaan dan benda-benda yang tidak ada di dalam Kojiki dan Nihonshoki.