Berikut Tradisi Pernikahan yang Sudah Ada di Peradaban Kuno

Berikut Tradisi Pernikahan yang Sudah Ada di Peradaban Kuno

Berikut Tradisi Pernikahan yang Sudah Ada di Peradaban Kuno – Sejarah dunia adalah sejarah umat manusia di seluruh dunia, semua daerah di Bumi, dirunut dari era Paleolitikum (zaman batu tua). Berbeda dengan sejarah Bumi (yang mencakup sejarah geologis Bumi dan era sebelum keberadaan manusia), sejarah dunia terdiri dari kajian rekam arkeologi dan catatan tertulis, dari zaman kuno hingga saat ini.

Pencatatan sejarah dimulai sejak aksara dan sistem tulisan diciptakan, tetapi asal mula peradaban bertolak dari periode sebelum penciptaan tulisan, atau zaman prasejarah. Pernikahan menjadi momen paling bahagia bagi sepasang kekasih untuk menyatukan hidup mereka. Demi hari yang penting tersebut, kedua keluarga calon pengantin akan sibuk mempersiapkan ritual penyatuan keluarga mereka.

Memilih tema, lokasi, pakaian, makanan dan undangan menjadi agenda kesibukan calon pengantin. Di era modern ini, banyak perusahaan yang menawarkan jasa perencanaan acara pernikahan. Peran wedding organizer sangat membantu keluarga calon pengantin dalam mempersiapkan acara. Lalu bagaimana dengan orang-orang di zaman kuno?

1. Bangsa Yahudi kuno
7 Tradisi Pernikahan di Peradaban Kuno yang Menarik Diketahui

Orang-orang Yahudi kuno cenderung menikah di usia muda. Umumnya mereka akan menikahi sesama orang Yahudi. Ayah pihak lelaki akan membayar harga dalam jumlah tertentu pada ayah pihak wanita, sebagai tanda ‘pembelian’ anak perempuan. Tradisi ini disebut dengan mohar, mirip seperti mahar dalam tradisi Indonesia. Selain itu, pengantin pria akan memberikan hadiah pada pengantin wanita sebagai tambahan mohar, yang disebut sebagai mattan.    

Hingga abad pertengahan, terdapat dua acara terpisah dalam pernikahan yahudi kuno, yang dilangsungkan dalam waktu berbeda. Acara pertama erusin yaitu pertunganan, yang kedua adalah pernikahan yang disebut nissuin. Pertunangan dinilai lebih penting, sebab saat sudah bertunangan, seorang wanita dianggap telah menikah, tetapi masih tinggal di rumah ayahnya. Saat pertunangan, calon pengantin membuat kontrak pernikahan yang disebut ketubah. Isi kontrak bergantung dari kesepakatan kedua mempelai. Pernikahan saat itu hanya berarti sang wanita dibawa dari rumah ayahnya ke rumah suaminya, dengan berbagai prosesi untuk menyempurnakan ikatan hukum.

2. Bangsa Mesopotamia kuno
7 Tradisi Pernikahan di Peradaban Kuno yang Menarik Diketahui

Dilansir World History, perjodohan adalah hal yang lumrah di masa Mesopotamia kuno. Pernikahan terjadi bukan atas keinginan pengantin, melainkan perjanjian antar keluarga mereka. Oleh karena itu, proses pernikahan mereka diawali dengan kesepakatan kontrak pernikahan, yang juga disebut pertunangan.

Dalam kontrak tersebut biasanya tertulis harga mempelai wanita, yang harus dibayarkan keluarga laki-laki pada ayah si perempuan. Saat melangsungkan pertunangan, laki-laki akan menuangkan parfum ke kepala calon istrinya, dan memberikannya hadiah dan perbekalan.

Jika kesepakatan antar keluarga tercapai maka upacara pernikahan dapat dilaksanakan. Upacara pernikahan adalah penyerahan istri kepada suaminya. Bagi masyarakat Mesopotamia kuno, pernikahan sangat penting demi kelangsungan garis keturunan.

Oleh karena itu, setiap pasangan yang telah menikah dituntut untuk segera memiliki anak. eHistory melansir jika pernikahan tersebut tidak menghasilkan keturunan, maka harga yang telah dibayar pengantin laki-laki untuk istrinya, akan dikembalikan mertuanya kepadanya, saat kematian istrinya.

3. China kuno
7 Tradisi Pernikahan di Peradaban Kuno yang Menarik Diketahui

Pada masa dinasti Han, pertukaran hadiah pertunangan mulai marak dilakukan. Kedua calon pengantin akan saling memberikan hadiah. Dilansir China Highlights, hadiah pertunangan sangatlah penting, karena tanpa hadiah tersebut, pernikahan dianggap tidak dihargai. Pengantin wanita akan segera pindah dan tinggal di rumah suaminya, segera setelah pertukaran hadiah dilaksanakan.

Perjodohan adalah hal yang lumrah di masa China kuno. Medium melansir bahwa hampir tidak ada kesempatan bagi muda-mudi untuk memilih siapa yang akan mereka nikahi. Kapan dan siapa yang akan mereka nikahi ditentukan oleh para tetua. Postur dan bentuk tubuh juga mempengaruhi apakah wanita dianggap layak menikah atau tidak.

Salah satu kriteria yang dianggap baik pada masa tersebut adalah ukuran kaki yang kecil. Untuk memperbesar kemungkinan mereka dapat menikah, wanita China kuno melakukan praktik melipat telapak kaki mereka. Kaki mereka dilipat dan diikat sejak kecil, sehingga ukurannya menjadi setengah.

4. Mesir kuno
7 Tradisi Pernikahan di Peradaban Kuno yang Menarik Diketahui

Bangsa Mesir kuno sangat perduli pada keluarga mereka. Berbeda dengan kebanyakan budaya kuno, pernikahan di Mesir dilakukan atas keinginan pasangan calon pengantin. Para pemuda akan memilih wanita yang ingin mereka nikahi. The Great Courses Daily melansir bahwa ketika keduanya setuju untuk menikah, mereka akan mengumumkannya kepada teman dan keluarga mereka.

Tidak ada acara atau ritual tertentu dalam pernikahan Mesir kuno. Saat pasangan pria dan wanita setuju untuk menikah, mereka hanya akan mengumumkan hal tersebut kepada keluarga dan teman mereka, setelah itu mereka langsung pindah dan tinggal untuk hidup bersama. Walau demikian, perpindahan anggota keluarga tetap dibarengi dengan sebuah kontrak. Kontrak tersebut membuat kedua orang yang menikah memiliki kewajiban finansial.

5. Yunani kuno
7 Tradisi Pernikahan di Peradaban Kuno yang Menarik Diketahui

Pernikahan pada masa Yunani kuno bertujuan mengangkat status sosial dan finansial keluarga. Perempuan menikah di usia yang sangat muda dan laki-laki di pertengahan usia 20-an, karena saat itu mereka memiliki kewajiban militer. Selain itu, laki-laki dianggap dewasa ketika usia mereka menginjak 25 tahun.

Ada beberapa ritual yang dijalani bangsa Yunani kuno ketika akan menikah. Ritual pranikah paling penting dari keseluruhan proses pernikahan. Pengantin wanita akan memberikan persembahan kepada dewi Hera dan Artemis berupa makanan, hewan-hewan hingga baju mereka saat masih anak-anak.

Di hari pernikahan, wanita akan mandi dengan suci sebagai tanda memasuki kehidupan baru sebagai wanita yang murni. Pasangan pengantin kemudian akan memberikan persembahan kepada dewa di kuil bersama-sama. Setelah ritual selesai, mereka akan pergi ke rumah pengantin pria dengan menggunakan chariot bersama-sama.

6. Bangsa Romawi kuno
7 Tradisi Pernikahan di Peradaban Kuno yang Menarik Diketahui

Pernikahan masyarakat Romawi kuno juga tidak didasari oleh keinginan pengantin, melainkan karena keinginan keluarga. Umumnya perempuan menikah di usia remaja dan pria di usia 30-an. Jika anak-anak mereka telah mencapai usia tersebut, orangtua akan mencarikan pasangan yang dapat meningkatkan kekayaan atau kelas keluarga mereka.

Pernikahan yang sah hanya pernikahan antar orang Romawi. Pernikahan orang Romawi dengan bangsa lain diperbolehkan jika telah mendapat izin khusus yang disebut conobium. Pernikahan Romawi kuno diawali dengan pertunangan, acara yang formal bagi pihak keluarga. Pada acara pertunangan, terjadi pertukaran hadiah dan persetujuan mahar. Pemilihan tanggal pernikahan dilakukan dengan hati-hati, dan bulan Juni menjadi bulan yang populer untuk pernikahan.

Saat pertunangan juga ada penandatanganan perjanjian tertulis yang disegel dengan ciuman antar calon pengantin. Acara pernikahan diadakan di rumah pihak perempuan di pagi buta. Penyembelihan hewan kurban dilakukan sebelum matahari terbit.

Dilansir Explore Italian Culture, acara pernikahan berlangsung dengan sepuluh orang saksi, selain dari orang tua kedua mempelai. Anehnya, pernikahan tetap dapat berjalan tanpa kehadiran pengantin pria. Surat yang menyatakan bahwa ia memang berniat menikahi mempelai wanita sudah cukup untuk menggantikan kehadirannya.

7. Viking kuno
7 Tradisi Pernikahan di Peradaban Kuno yang Menarik Diketahui

Orang-orang Viking menikah dengan tujuan untuk menghasilkan keturunan demi menjaga keberlangsungan hidup. Pria dan wanita Viking dituntut untuk menikah sebelum berusia dua puluh tahun, bahkan beberapa di antaranya menikah saat masih berusia remaja. Bisa dikatakan, pernikahan Viking merupakan kontrak sosial dan transaksi antar keluarga.

Pernikahan orang Viking biasanya dilaksanakan di hari Jumat, karena hari tersebut adalah hari dewi Frigga, dewi pernikahan. Ada beberapa tahap transaksi pada pernikahan orang-orang Viking kuno. Tahap pertama adalah penentuan harga pengantin perempuan, yang disebut mundr. Setelah itu, pemberian mahar disebut juga heiman-fylgia, dimana ayah perempuan akan memberikan sejumlah hartanya bagi anak perempuannya kepada calon mempelai pria.

Tahap terakhir adalah morgedn-gifu, yaitu pemberian hadiah dari mempelai pria kepada istrinya, di pagi hari setelah hari pernikahan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa kedua keluarga memberikan kontribusi finansial terhadap bersatunya keluarga mereka.

Sangat berbeda dengan sekarang, kebanyakan orang akan menikahi orang yang mereka cintai atas dasar keinginan mereka. Perhelatan perkawinan juga dipermudah dengan adanya penyedia jasa wedding organizer. Dari fakta-fakta di atas, mana yang paling mengejutkan bagimu?

Prasejarah dimulai dari Paleolitikum (zaman batu tua), diikuti dengan  Neolitikum (zaman batu muda) dan Revolusi Pertanian (antara 8000–5000 SM) di kawasan Hilal Subur. Revolusi tersebut merupakan titik perubahan besar dalam sejarah umat manusia karena sejak masa itu mereka telah mampu membudidayakan tumbuhan dan hewan.

Seiring dengan perkembangan pertanian, gaya hidup nomad berubah menjadi gaya hidup menetap sebagai petani. Kemajuan pertanian mengakibatkan pembagian strata pekerja dalam usaha panen. Strata pekerja menyebabkan munculnya strata masyarakat dan perkembangan kota-kota. Banyak kota kuno berkembang di tepi-tepi kumpulan air (danau dan sungai) yang dapat menyokong kehidupan.