Beberapa Kisah Banjir Besar Dari Berbagai Mitologi Berbeda

Beberapa Kisah Banjir Besar Dari Berbagai Mitologi Berbeda

Beberapa Kisah Banjir Besar Dari Berbagai Mitologi Berbeda – Banjir adalah peristiwa bencana alam yang terjadi ketika aliran air yang berlebihan merendam daratan. Pengarahan banjir Uni Eropa mengartikan banjir sebagai perendaman sementara oleh air pada daratan yang biasanya tidak terendam air.

Dalam arti “air mengalir”, kata ini juga dapat berarti masuknya pasang laut. Banyak bukti ilmiah yang menunjukkan kalau bumi pernah mengalami banjir besar di masa lampau. Dalam agama Abrahamik, kisah paling terkenal yang menceritakan tentang banjir besar sangat terkait dengan Nuh dan bahtera raksasanya.

Namun, kisah tentang banjir besar ini juga terdapat di beberapa peradaban yang berbeda. Sebagian besar kisah ini memiliki elemen sihir dan mitos, sementara yang lain menggambarkan banjir tersebut sebagai sejarah faktual.

1. Hindu
Selain Kisah Nuh, 7 Legenda Banjir Besar dalam Berbagai Mitologi

Dewa Wisnu memiliki 10 avatar berbeda yang disebut “dashavatara,” di mana yang paling terkenal adalah Krishna. Namun dalam daftar ini, kita akan membahas Matsya yang digambarkan sebagai ikan raksasa. Menurut mitologi Hindu, dikisahkan kalau Raja Manu menemukan seekor ikan kecil ketika sedang menuangkan air ke tangannya.

Seperti dilansir dari Britannica, ikan itu memohon padanya untuk dibiarkan hidup. Jadi, Manu memasukkan ikan itu ke dalam kendi berisi air. Namun, semakin lama ikan itu menjadi semakin besar sampai Manu harus membawanya ke laut. Manu pun terkejut ketika menyadari kalau ikan ini adalah jelmaan dari dewa Wisnu.

Sebagai imbalan atas kebaikannya, Wisnu memberikan peringatan tentang bencana kekeringan dan banjir besar yang akan melanda wilayahnya. Wisnu memerintahkan Raja Manu untuk mengumpulkan semua tumbuhan dan hewan ke dalam sebuah perahu besar.

Manu juga membawa serta tujuh orang bijak dan keluarga mereka. Tujuh orang bijak adalah mereka yang memegang semua pengetahuan dunia. Setelah banjir mereda, mereka harus menetap di puncak gunung untuk membangun kembali peradaban dari awal.

2. Tiongkok
Selain Kisah Nuh, 7 Legenda Banjir Besar dalam Berbagai Mitologi

Kisah tentang banjir besar di Tiongkok dimulai pada 1920 SM di Lajia, sebuah daerah di provisi Qinghai. Semuanya dimulai dengan gempa bumi, di mana bebatuan besar dari gunung jatuh dan membendung Sungai Kuning.

Setelah menerima curah air hujan yang besar selama setahun penuh, bendungan itu akhirnya hancur dan menyebabkan banjir besar. Kaisar Yu, yang memerintah pada saat itu, menghabiskan 22 tahun untuk mengalihkan air banjir ini.

Begitu banjir mereda, Yu mulai membangun kembali peradaban Tiongkok dari bawah. Para ilmuwan sendiri telah mempelajari formasi batuan di dekat Sungai Kuning dan membuktikan kalau banjir besar ini pernah terjadi di masa lampau.

3. Mesopotamia: Epik Atrahasis
Selain Kisah Nuh, 7 Legenda Banjir Besar dalam Berbagai Mitologi

Ada dua epos yang mengisahkan tentang banjir besar di peradaban Mesopotamia, yaitu Epik Atrahasis dan Epik Gilgamesh. Dilansir Ancient History Encyclopedia, Epik Atrahasis dimulai jauh sebelum ada manusia, di mana para dewa harus menggali kanal dan sungai sendiri.

Merasa lelah, para dewa itu mogok kerja sampai Dewa Enlil memutuskan untuk menciptakan manusia dari tanah liat dan darah seorang dewi. Namun, 1.000 tahun setelah menciptakan manusia, Enlil mulai gila karena harus mendengarkan semua doa mereka.

Enlil yang kesal pun mulai membunuh manusia dengan kekeringan sampai mereka menjadi kanibal. Dewa laut, Enki, merasa kasihan pada manusia sehingga dia mengambil ikan dari laut dan memberikannya pada manusia. Mengetahui hal ini, Enlil pun memerintahkan Enki untuk memusnahkan umat manusia dengan banjir besar.

Enki tahu kalau dia harus mematuhi dewa utamanya, tetapi di satu sisi merasa kasihan dengan manusia. Oleh karean itu, ia memperingatkan seorang manusia bernama Atrahasis untuk membuat sebuah bahtera raksasa. Atrahasis memutuskan untuk membawa semua tumbuhan dan hewan serta para tetua yang paling bijaksana.

Dewi ibu, yang merasa ngeri dengan peristiwa ini, mengusulkan agar generasi baru manusia memiliki kontrol populasi alih-alih berkembang biak seperti kelinci. Dia pun menciptakan keguguran dan bencana alam berkala untuk mengurangi populasi manusia. Enlil menyambut baik gagasan ini dan mengizinkan Atrahasis untuk membangun kembali peradaban dari awal.

4. Mesopotamia: Epik Gilgamesh
Selain Kisah Nuh, 7 Legenda Banjir Besar dalam Berbagai Mitologi

Bisa dibilang kalau Epic Gilgamesh lebih “muda” dari Epik Atrahasis, walau kedua kisah itu masih lebih tua dari kisah Bahtera Nuh versi Ibrani. Beberapa sejarawan sendiri menganggap kalau Epik Gilgamesh harus dianggap sebagai karya artistik alih-alih karya nonfiksi sejarah.

Dalam Epik Gilgamesh, dikisahkan kalau Gilgamesh mulai mencari keabadian setelah sahabatnya, Enkidu, meninggal. Dalam perjalannya, ia bertemu dengan leluhurnya, Utanapishtim, yang selamat dari peristiwa banjir besar. Alih-alih mendapatkan keabadian, Gilgamesh malah mendapatkan perunungan filosofis dari perjalanannya ini.

5. Yunani kuno
Selain Kisah Nuh, 7 Legenda Banjir Besar dalam Berbagai Mitologi

Dalam mitologi Yunani, Prometheus menciptakan manusia dari tanah liat. Namun, Zeus menganggap hal ini sebagai sebuah bencana. Zeus menekan tombol “reset” pada umat manusia alias mengirim banjir besar pada mereka. Pada saat itu, putra Prometheus, Deucalion, dan istrinya, Pyrrha, tinggal di bumi.

Prometheus memperingatkan Deucalion kalau banjir akan datang. Mendengar peringatan dari ayahnya, Deucalion segera membuat bahtera raksasa agar selamat dari banjir ini. Setelah banjir mereda, Deucalion dan Pyrrha mendaratkan bahtera mereka di puncak gunung.

Di sana, Deucalion disuruh untuk “melempar tulang ibumu” ke bahunya. Dia menyadari kalau “ibu” berarti bumi dan “tulang” adalah batu. Pyrrha dan Deucalion pun mulai melempar batu ke tanah, yang secara ajaib berubah menjadi seorang bayi.

6. Nordik
Selain Kisah Nuh, 7 Legenda Banjir Besar dalam Berbagai Mitologi

Dalam mitologi Nordik, Ymir adalah raksasa dan dewa pertama yang menciptakan berbagai makhluk, termasuk para dewa dan raksasa. Dikisahkan kalau para cucu Ymir—Ve, Vili, dan Odin—memutuskan untuk membunuhnya. Ketika Ymir meninggal, darahnya mengalir dan menyebabkan banjir besar dan menenggelamkan para raksasa.

Ve, Vili, dan Odin pun mulai mencabik-cabik jasad Ymir untuk menciptakan planet. Laut dan danau terbuat dari darah Ymir, di mana tulang serta dagingnya menjadi daratan. Begitu para dewa menciptakan tanah, mereka langsung naik ke puncak gunung.

Karena mereka tidak memiliki kekuatan untuk berkembang biak sendiri, Odin, Ve, dan Vili menciptakan makhluk baru dengan daging Ymir. Mereka mengambil sebuah kayu gelondongan dan mengubahnya menjadi manusia.

7. Aborigin
Selain Kisah Nuh, 7 Legenda Banjir Besar dalam Berbagai Mitologi

Penduduk asli Australia, Aborigin, menceritakan kisah seekor katak bernama Tiddalick yang telah menyebabkan peristiwa banjir besar. Dikisahkan kalau Tiddalick sangat haus sampai ia meminum semua air di dunia ini untuk dirinya sendiri. Tentunya, hal ini menyebabkan kekeringan.

Hewan-hewan lain ingin Tiddalick menyerahkan sebagian airnya karena mereka kehausan. Oleh karena itu, seekor belut mulai melakukan tarian lucu di depan Tiddalick untuk membuatnya tertawa. Ketika mulutnya terbuka, semua air dari mulutnya keluar dan menyebabkan banjir yang menewaskan banyak makhluk yang ada di sana.

Sebenarnya, masih ada banyak mitologi yang berhubungan dengan kisah banjir besar. Namun untuk saat ini, kita hanya membahas beberapa di antaranya saja. Jika kalian mengetahui kisah lainnya, kalian bisa menulisnya di kolom komentar ya.

Ukuran danau atau badan air terus berubah-ubah sesuai perubahan curah hujan dan pencairan salju musiman, namun banjir yang terjadi tidak besar kecuali jika air mencapai daerah yang dimanfaatkan manusia seperti desa, kota, dan permukiman lain. Banjir juga dapat terjadi di sungai, ketika alirannya melebihi kapasitas saluran air, terutama di kelokan sungai.

Banjir sering mengakibatkan kerusakan rumah dan pertokoan yang dibangun di dataran banjir sungai alami. Meski kerusakan akibat banjir dapat dihindari dengan pindah menjauh dari sungai dan badan air yang lain, orang-orang menetap dan bekerja dekat air untuk mencari nafkah dan memanfaatkan biaya murah serta perjalanan dan perdagangan yang lancar dekat perairan. Manusia terus menetap di wilayah rawan banjir adalah bukti bahwa nilai menetap dekat air lebih besar daripada biaya kerusakan akibat banjir periodik.