Beberapa Hewan yang Dianggap Istimewa dalam Suku Berikut ini

Beberapa Hewan yang Dianggap Istimewa dalam Suku Berikut ini

Beberapa Hewan yang Dianggap Istimewa dalam Suku Berikut ini – Kelompok etnik, etnis atau suku bangsa adalah suatu golongan manusia yang anggota-anggotanya mengidentifikasikan dirinya dengan sesamanya, biasanya berdasarkan garis keturunan yang dianggap sama. Identitas suku ditandai oleh pengakuan dari orang lain akan ciri khas kelompok tersebut seperti kesamaan budaya, bahasa, agama, perilaku, dan ciri-ciri biologis.

Menurut pertemuan internasional tentang tantangan-tantangan dalam mengukur dunia etnis pada tahun 1992, “Etnisitas adalah sebuah faktor fundamental dalam kehidupan manusia. Ini adalah sebuah gejala yang terkandung dalam pengalaman manusia” meskipun definisi ini sering kali mudah diubah-ubah. Yang lain, seperti antropolog Fredrik Barth dan Eric Wolf, menganggap etnisitas sebagai hasil interaksi, dan bukan sifat-sifat hakiki sebuah kelompok. Proses-proses yang melahirkan identifikasi seperti itu disebut etnogenesis. Indonesia merupakan salah satu negara yang dianugerahi dengan kekayaan alam yang melimpah, salah satunya adalah keanekaragaman fauna.

Ada ribuan jenis spesies hewan yang bisa kamu temukan di Indonesia mulai dari Situs Togel Deposit Pulsa 10rb yang hidup di darat, laut, hingga burung-burung yang selalu beterbangan di udara. Dari sekian banyak hewan yang ada di Indonesia, ternyata ada beberapa suku yang menempatkan beberapa jenis hewan sebagai sesuatu yang istimewa dan punya makna khusus.

1. Kerbau
Punya Makna Khusus, 5 Hewan Ini Dianggap Istimewa di Suku-Suku Ini   

Kerbau merupakan hewan istimewa bagi orang Toraja yang tinggal di Pulau Sulawesi. Tedong yang merupakan istilah orang Toraja untuk kerbau bukan hanya sebagai lambang status sosial, tetapi dapat dijadikan sebagai alat transaksi jual beli tanah dan juga memerankan peranan penting dalam beberapa upacara adat seperti halnya dalam upacara kematian atau dikenal dengan nama “Rambu Solo”. Dalam upacara ini keluarga akan menyembelih banyak kerbau.

Menurut kepercayaan leluhur orang Toraja atau disebut Aluk Todolo, mereka mempercayai bahwa kurban-kurban kerbau inilah yang akan menjadi kendaraan dan bekal bagi mereka yang sudah mati menuju alam Puya atau Nirwana. Semakin banyak kerbau yang mereka korbankan, maka akan semakin cepat dan baik sang mendiang di alam baka. Tak heran jika harga kerbau di daerah Toraja dapat mencapai puluhan juta hingga milyaran rupiah satu ekor.

2. Buaya
Punya Makna Khusus, 5 Hewan Ini Dianggap Istimewa di Suku-Suku Ini   

Mungkin sebagian dari kita hewan yang satu ini selalu dikaitkan konotasi negatif para pria hidung belang. Tapi tahukah kamu jika buaya termasuk salah satu hewan paling setia? mereka hanya akan kawin satu kali dengan satu betina, mereka tidak akan mencari betina lain saat pasangan betina mereka mati ataupun menghilang. Orang Betawi yang memang dulunya tinggal dekat dengan rawa-rawa, memperhatikan betul sifat buaya yang menghuni rawa-rawa.

Hal inilah yang mendasari Suku Betawi menjadikan hewan ini sebagai simbol kesetiaan yang dihadirkan dalam bentuk roti dalam pernikahan adat Betawi. Awalnya bukan untuk dimakan, orang Betawi zaman dahulu membuat roti ini sekeras mungkin tanpa isian dan rasa. Semakin keras roti buaya maka semakin bagus karena semakin semakin awet.

Selepas dipajang selama pernikahan, kemudian mereka simpan roti ini diatas lemari pakaian dan dibiarkan membusuk. Dari roti buaya yang hancur inilah bahwa sepasang suami istri tidak akan dapat pisahkan hingga dipisah maut dan raga yang membusuk.

Namun saat ini kita banyak menemui roti buaya yang dibuat enak untuk dimakan dan biasanya ditambahkan rasa agar dapat dibagikan kepada tamu-tamu yang belum menikah dengan harapan mereka segera bertemu dengan jodohnya.

3. Kuda Sumba
Punya Makna Khusus, 5 Hewan Ini Dianggap Istimewa di Suku-Suku Ini   

Kuda Sumba atau orang sumba menyebutnya “ndara” merupakan hewan yang sangat melekat dan tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan Orang Sumba. Bagi Orang Sumba, kuda dianggap hampir sejajar dengan arwah nenek moyang mereka dan menjadi simbol harga diri serta kebanggan. Kuda-kuda ini dipelihara dengan baik dan dikandang di bagian bawah rumah inti. Saking berartinya kuda ini bagi masyarakat Sumba, kuda ini bukan hanya dapat dijadikan tunggangan dan alat bantu transportasi tetapi juga memegang peranan penting dalam upacara adat di Sumba seperti mas kawin dalam pernikahan adat mereka atau dalam acara “Pasola”.

4. Burung Enggang
Punya Makna Khusus, 5 Hewan Ini Dianggap Istimewa di Suku-Suku Ini   

Suku Dayak merupakan suku asli yang tinggal di Pulau Kalimantan. Mereka memposisikan Burung Enggang sebagai burung yang dikeramatkan dan dianggap sebagai penjelmaan dari Panglima Burung. Sosok Panglima Burung ini merupakan sosok berwujud gaib yang konon hanya akan datang saat terjadi perang. Burung yang satu ini dilarang untuk diburu apalagi dikonsumsi dan Burung Enggang yang mati tidak akan dibuang, bagian kepala dari burung tersebut akan digunakan sebagai hiasan kepala yang akan digunakan oleh orang-orang tertentu dan terhormat dalam Suku Dayak.

Burung ini juga dianggap sebagai simbol pemimpin idaman yang mencintai perdamaian. Lebar sayapnya digambarkan sebagai tempat pelindungan bagi rakyatnya yang membentang luas, kepak sayapnya yang berbunyi nyaring dianggap sebagai simbol kekuatan dan keberanian, sedangkan suaranya merupakan simbol pemimpin yang harus selalu didengar oleh rakyatnya.

5. Cicak
Punya Makna Khusus, 5 Hewan Ini Dianggap Istimewa di Suku-Suku Ini   

Jika kamu melihat ukiran di rumah tradisional Suku Batak kamu akan menemukan sebuah ukiran menyerupai cicak atau yang disebut sebagai “Gorga Boraspati”. Gorga atau ukiran ini mengandung makna filosofis bahwa orang Batak mampu bertahan hidup dimana saja dan dapat beradaptasi dengan lingkungan mereka. Selain itu, biasanya ukiran ini mengahadap empat payudara yang melambangkan kesuburan.

Secara keseluruhan, para anggota dari sebuah kelompok suku bangsa mengklaim kesinambungan budaya melintasi waktu, meskipun para  sejarawan dan antropolog telah mendokumentasikan bahwa banyak dari nilai-nilai, praktik-praktik, dan norma-norma yang dianggap menunjukkan kesinambungan dengan masa lalu itu pada dasarnya adalah temuan yang relatif baru.