Seorang Istri Menyantet Suaminya Sebelum Dibunuh dan Dibakar

Seorang Istri Menyantet Suaminya Sebelum Dibunuh dan Dibakar

Seorang Istri Menyantet Suaminya Sebelum Dibunuh dan Dibakar – Pembunuhan adalah suatu tindakan untuk menghilangkan nyawa seseorang dengan cara yang melanggar hukum, maupun yang tidak melawan hukum. Aulia Kesuma (AU), dalang pembunuhan berencana terhadap suaminya, Edi Chandra Purnama (ED) alias Pupung Sadili serta anak tirinya M Adi Pradana alias Dana (DN), merencanakan dua cara pembunuhan sebelum keduanya dibakar di kawasan Sukabumi, Jawa Barat pada Minggu (25/8) lalu.

Aulia pun berpikir untuk menjual rumah suaminya yang berada di Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Akan tetapi, Aulia tidak diizinkan untuk menjual rumah tersebut. Lantas, Aulia meminta bantuan TN untuk membunuh Edi dan Dana.

“Kemudian TN mengenalkan suaminya bernama RD. Kemudian RD diminta untuk santet tapi tidak berhasil. Opsi kedua menembak, menyiapkan senjata dan dia (Aulia) beri uang Rp25 juta. RD ke Jogja cari eksekutor tapi tidak berhasil,” Dilansir dari Daftar Live22 Slot kata Suyudi dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Senin (2/9).

1. Aulia mulai merencanakan pembunuhan pada 22 Agustus

Aulia kemudian curhat kepada pembantunya yang sekarang berinisial TT. Dari situ, Aulia dikenalkan seorang dukun santet berinisial AK dan dikenalkan dua orang lagi yang nantinya akan menjadi pembunuh bayaran yakni SG dan AG.

“Kemudian terjadi pertemuan di Jakarta di parkiran Tower Mawar Kalibata. Ketemu dengan saudara AP rekrutan saudara RD, untuk habisi suaminya ED (Edi) dan DN (Dana),” jelasnya.

2. Edi dan Dana dibunuh dengan dibekap

Pada Jumat (23/8) malam sekitar pukul 20.30 WIB, Aulia mulai beraksi. Keluarga Edi, kata Suyudi, terbiasa mengonsumsi jus tomat. Jus tomat itu dicampur dengan obat tidur Valdres sebanyak 30 butir yang telah dihaluskan. Berdasarkan penelusuran IDN Times, Valdres adalah obat yang digunakan untuk terapi singkat pada penderita insomnia atau kesulitan tidur.

Aulia juga menyampurkan obat itu pada jus tomat dan minuman keras yang nantinya akan diminum Kelvin.

Pukul 04.30 WIB, Dana pun mabuk dan tertidur. Kelvin memberikan kode, agar Aulia, SG dan AG menjalankan rencana pembunuhan itu dengan dibekap hingga meninggal di lokasi.

3. Membakar rumah seolah-olah Edi dan Dana meninggal karena rumah terbakar

Aksi keji Aulia, Kelvin dan dua pembunuh bayaran itu tidak sampai di situ saja. Mereka berencana membakar rumah untuk menandakan bahwa Edi dan Dana meninggal karena rumah terbakar. Mereka membakar lantai dua rumah itu serta pada bagian garasi.

Namun, saat dibakar, SG berubah pikiran. Ia merasa tak tega dan mematikan api yang ada di garasi. Sedangkan di lantai dua, api tetap dibiarkan. Usai itu, keempatnya keluar dari rumah tersebut. SG dan AG diantarkan ke sebuah SPBU dan kembali ke Lampung. Sedangkan Aulia dan Kelvin kembali ke Apartemen.

4. Aulia berencana membakar mayat Edi dan Dana

Pada Sabtu (24/8) sekitar pukul 19.00 WIB, kebakaran terjadi di lantai dua rumah Edi. Kebakaran itu dilihat oleh tetangganya yang berinisial S. Empat unit mobil pemadam kebakaran pun dikerahkan untuk memadamkan api.

Kasus ini berhasil diungkap berkat kerja sama antara Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat dan Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya. Berkat kerja sama itu, polisi berhasil mengungkap para pelaku yakni, Aulia, Kelvin, SG dan AG.

“AG dan SG hari itu juga kita buru ke Lampung Tengah, kemudian di bawa ke Jakarta. Menetapkan empat tersangka diduga melakukan pembunuhan terencana kepada saudara ED (Edi) dan DN (Dana),” ungkap Suyudi.

5. Para tersangka terancam hukuman penjara seumur hidup

Mantan Kapolres Metro Jakarta Pusat itu menambahkan, AS dan AG diberikan uang sebesar Rp200 juta. Akan tetapi, baru dibayarkan Rp10 juta.

“(AS dan AG) Ditelpon untuk bersih-bersih gudang awalnya. Setelah diiming-imingi Rp200 juta tertarik untuk membantu,” ujar Suyudi.

Para tersangka dikenakan pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana dengan ancaman penjara minimal 20 tahun, hukuman mati, atau penjara seumur hidup.